OLIMPIADE SASTRA-BALAI BAHASA DENPASAR

Naskah Lomba Baca Puisi Olimpiade Sastra 2009

Posted in Lomba Baca Puisi by olimpiadesastra on Juni 15, 2009

Subagio Sastrowardoyo:

MANUSIA PERTAMA DI ANGKASA LUAR

Beritakan kepada dunia

Bahwa aku telah sampai pada tepi

Darimana aku tak mungki9n lagi kelmbali.

Aku kini melayang di tenagh ruang

Di mana tak terpisah  malam dan siang.

Hanya lautan yang hampa di lingkung cemerlang bintang.

Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang.

Jagat begitu tenang. Tidak lapar

Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di rumah.

Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah.

Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu

Dengan membawa dongeng  dalam mimpi tentang bota

Dan raksasa, peri dan bidadari. Aku teringat

Kepada buku cerita  yang terlipat dalam lemari.

Aku teringat kepada bunga mawar dari Elisa

Yang terselip dalam surat yang membisikkan  cintanya kepadaku

Yang mesra. Dia kini tentu ada di jendela

Dengan Alex dan Leo, –  itu anak-anak berandal yang kucinta –

Memandangi langit dengan sia. Hendak menangkap

Sekelumit dari pesawatku, seleret dari

Perlawatanku di langit tak berberita.

Masihkah langit mendung seperti waktu

Kutinggalkan kemarin dulu?

Apa  yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita.

Sebab semua telah terbang bersama kereta

ruang ke jagat tak berhuni. Tetapi

ada barangkali. Berilah aku satu kata puisi

dari pada seribu rumus ilmu yang penuh janji

yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi

yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi

Tetapi aku telah sampai pada tepi

Darimana aku tak mungkin lagi kembali.

Ciumku kepada istri, kepada anak dan ibuku

Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang.

Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.

Aku makin jauh, makin jauh

Dari bumi yang kukasih. Hati makin sepi

Makin gemuruh

Bunda,

Jangan membiarkan aku sendiri.

____________________________________________________________________________________

Goenawan Muhamad:

DI MUKA JENDELA

Di sini

Cemara pun gugur daun. Dan kembali

Ombak-ombak hancur terbantun.

Di sini

Kemarau pun menghembus bumi

Menghembus pasir , dingin dan malam hari

Ketika kedamaian pun datang memanggil

Ketika angin terputus-putus di hatimu menggigil

Dan sebuah kata merekah

Diucapkan ke ruang yang jauh: — Datanglah!

Ada sepasang bukit, meruncing merah

dari tanah padang-padang yang tengadah

tanah padang-padang terkukur

di mana tangan-hatimu terulur. Pula

ada menggasing kincir yang sunyi

ketika senja mengerdip, dan di ujung benua

memecah pelangi:

Tidakkah siapa pun lahir kembali di detik begini

ketika bangkit bumi,

sajak biru abadi,

dalam kristal kata

dalam pesona?

____________________________________________________________________________________

Abdul Hadi W.M.:

UNTUK SEBUAH CATATAN HARIAN

Di bawah seribu mawar

Bulan Juli yang terbakar

Dan langit musim panas

Matahari berganti-ganti

Ada bayangan daun gugur

Pada tingkap musim mencari

Serta kuntum-kuntum kapur

Dan kota yang semakin sunyi

Malam: Beberapa jejak sudah di jalan itu

Dan gerimis yang pulang sendiri

Ketika lonceng dari gereja mati

Ketika pelabuhan dari pulau abadi

Kau berkata, tak ada stasiun

Sebelum kereta memencar

Kau berkata, tak ada daun

Sebelum pohon berakar

Di bawah seribu mawar

Bulan Juli yang terbakar

Dan langit musim panas

Matahari menyuling keras sekali

____________________________________________________________________________________

Ngurah Parsua:

PENGAKUAN SEORANG PEREMPUAN JALANAN

Tuhan adakah ruang sekapan bagiku?

ini doa perempuan malam

lelaki masih putih-putih doanya

Aku kenal dari tajam mata memandang

Menyayat keadilan keadilan kiranya

–          kereta api malam membelah sunyi

malam perjalanan-

Nenek tua memandang warnanya gemetaran

– bukankah setiap doa tergapai bagiNya?

perempuan perempuan seperti bunga saja –

semerbak untuk terlupa dan dilupakan

lelaki seperti bebas dari warnanya

Demi lapar laparlah menyeretnya,

harga kehidupan bergincu gincu, Tuhanku

Dan lelaki mulia bebas, dari

warna palsu diukir kepalsuan

–          ada tempat doakah untuk doaku; Yang Mulia ?-

Lelaki berpakaian bebas saja

seperti bebas warna dosanya

menelusup ke dalam tulang belulang

perempuan tertawa lepas bebas saja

menyimpan luka hatinya – nenek tua –

menggoncangkan rambutnya tua menghiba

Mungkinkah, Tuhan tersenyum menyimpan setiap doa

pengakuan, membagi ruang sorga neraka

Barangkali; dicatatnya pada langit kekal hampa

Siapakah datang bagi kudus doa?

Kesadaran kapas putih terbang perlahan

____________________________________________________________________________________

Frans Nadjira:

SAJAK BONSAI MEMANDANG PAGI

Jadi apa makna bercak darah?

Tirai tembus pandang bergetar dalam cahaya

ketika dingin menyentuh kemilau embun

Ia ingat jejak mawar dan semua yang pernah

menyapanya Ia ingat:

potret mempelai dalam pakaian adat

seperai dengan tulisan tangan

tak terbaca. Ah

perkawinan. Akar pohon kerdil.

Yang sengaja dikerdilkan

Beringin kecil dekat jendela.

Sesudah sarang merpati, pemandangan menjadi

biasa dengan akar-akar kerdil dan ikan hias

Dan ia membasuh tangannya dengan wajah bahagia

Serta segala yang pantas diperhatikan

____________________________________________________________________________________

Yudhistira ANM Massardi:

BIARIN!

kamu bilang hidup in brengsek. Aku bilang biarin

kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin

kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin

kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu

tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana

cuman, karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti

itu

kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin

kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin

soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?

aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu

aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia

ini. Iya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi

habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba

bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan

seperti kamu sadari sekarang ini

kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin

kamu bilang itu menyakitkan

____________________________________________________________________________________

Sutardji Calzoum Bashri

TANAH AIRMATA

tanah mata air mata kami tumpah dukaku

disinilah kami berdiri

menyanyikan air mata kami

dibalik gembur subur tanahmu

kami simpan perih kami

dibalik etalase megah gedung-gedungmu

kami coba sembunyikan derita kami

kami coba simpan nestapa

kami coba kuburkan dukalara

tapi perih tak bisa sembunyi ia merebak kemana-mana

bumi tak sebatas pandang

dan udara luas menunggu

namun kalian takkan bisa menyingkir

kemanapun melangkah

kakian pijak airmata kami

kemenapun terbang

kalian kan hinggap di airmata

kami kemanapun berlayar

kalian arungi airmata kami

kalian sudah terkepung

takkan bisa mengelak

takkan bisa kemana pergi

menyerahlah pada kedalaman air mata kami

____________________________________________________________________________________

Rendra:

SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja

Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.

Amarah merajalela tanpa alamat.

Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.

Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah.

O, zaman edan!

O, malam kelam pikiran insan!

Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.

Kitab undang-undang tergeletak di selokan.

Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.

O, tata warna fatamorgana kekuasaan!

O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!

Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa

Allah selalu mengingatkan

bahwa hukum harus lebih tinggi

dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.

O kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!

O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!

Berhentilah mencari Ratu Adil!

Ratu Adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya!

Apa yang harus kita tegakkan bersama

adalah Hukum Adil.

Hukum Adil adalah  bintang pedoman di dalam prahara.

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara

menjadi saksi yang akan berkata:

Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,

apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,

apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,

maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,

lalu mejadi penjarah di pasar dan jalan raya.

Wahai, penguasa dunia yang fana!

Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!

Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?

Apakah masih akan menipu diri sendiri?

Apabila saran akal sehat kamu remehkan

berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap

yang akan muncul dari sudut-sudut gelap

telah kamu bukakan!

Cadar kabut dukacita menutup wajah Ibu Pertiwi.

Air mata mengalir dari sajakku ini.

____________________________________________________________________________________

Camar Samar:

ANAK EMAK

(Ketika_masa kanak-kanak)

Aku bertanya pada Emak

Saat tengah:malam ada tangisan anak

Kata Emak

Itu suara anak nakal diganggu setan beranak

Aku takut setan beranak

Kata Emak                                                                .

Tak usah takut, karena ada dewi yang menyulam taplak

Tak percaya mata terbelalak

Ku disuruh mengintip lewat dinding bambu yang sedikit koyak

Kulihat rembulan ada dewi yang menjaga sambil menyulam  taplak

Aku terlelap dipangkuan Emak

Berselimut kemben emak

(Ketika masa sekolah)

Emak menisik baju

Bekas teman Bapak dahulu

Emak memberiku pensil kayu buku biru

Ketika aku terbata membaca buku

Kata Emak padaku

Rajinlah belajar dahulu   ­

Kelak jadi dokter atau guru

Aku duduk di sekolah inpres baru

(Ketika masa remaja.)

Aku ingin sekolah lanjutan

Seperti Udin yang ayahnya angkatan

Seperti Sari yang ibunya rajin arisan

atau seperti A Hong yang papahnya punya toko di pasar Wetan

(Ketika kuutarakan pada Emak)

Emak menjawab dengan sedu sedan

Tak punya uang untuk sekolah lanjutan

Emak dan Bapak hanya kuli sawah musiman

(Ketika sudah dewasa)

Kulihat si Udin jadi tentara

Sari jadi dokter muda

A Hong jadi sarjana

Aku jadi kuli sawah tetangga

Ah, aku si Anak Emak   .

Tak akan jadi dokter yang akan mengobati encok Bapak

Tak akan jadi guru yang akan mengajar membaca Emak

Dan tak akan takut pada setan beranak

____________________________________________________________________________________

Husni Djamaluddin:

INDONESIA, MASIHKAH ENGKAU TANAH AIRKU?

Indonesia

Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku digusur

Dari tanah leluhur

Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Di sanalah airku dikemas

Dalam botol-botol aqua

Indonesia tanah airku

Di sanalah aku berdiri

Jadi kuli sepanjang hari

Jadi satpam sepanjang malam

Indonesia tanah airku

Indonesia di manakah tanahku

Indonesia tanah airku

Indonesia di manakah airku

Indonesia tanah airku

Tanah bukan tanahku

Indonesia tanah airku

Air bukan airku

Indonesia, masihkah engkau tanha airku?

Tuhan, jangan cabut Indonesiaku

Dari dalam hatiku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: