OLIMPIADE SASTRA-BALAI BAHASA DENPASAR

UNDANGAN: DIALOG BUDAYA DAN PELUNCURAN BUKU SERI PUISI JERMAN V ‘HANS MAGNUS ENZENSBERGER’

Posted in Uncategorized by olimpiadesastra on Agustus 8, 2009

UNDANGAN:

DIALOG BUDAYA DAN PELUNCURAN BUKU SERI PUISI JERMAN V ‘HANS MAGNUS ENZENSBERGER’

Bekerjasama dengan Goethe Institut Jakarta dan Balai Bahasa Denpasar, pada pertengahan Agustus 2009, Komunitas Sahaja akan menyelenggarakan sebuah acara Dialog Budaya dan Peluncuran Buku karya Hans Magnus Enzensberger, salah satu penyair mumpuni Jerman. Buku Kumpulan Puisi ini merupakan upaya penerbitan Seri Puisi Jerman yang kelima.

Menampilkan dua pembicara yang juga sekaligus penerjemah karya Enzensberger dari bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia, yakni Berthold Damshauser (Jerman) dan Agus R. Sarjono (Indonesia).

Selain itu, akan digelar pula pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan nomor pertunjukan lainnya. Acara diselenggarakan pada:

Hari, tanggal : Sabtu, 15 Agustus 2009

Waktu : Pukul 17.00– 21.00 WITA

Tempat : Studio Ramayana, Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar Jalan Hayam Wuruk 70 Denpasar, Bali

Atas partisipasi Anda, kami mengucapkan terima kasih Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Komunitas Sahaja 081916124550 / 087860947414 atau via email ke komunitas.sahaja@yahoo.com

Iklan

Sekilas Pandang Olimpiade Sastra-Balai Bahasa 2009

Posted in Olimpiade Sastra by olimpiadesastra on Juli 14, 2009

Latar Belakang

Perkembangan sastra Indonesia dan daerah banyak ditentukan oleh munculnya para penulis muda. Namun, kehadiran mereka memerlukan atmosfer yang kondusif. Untuk itu, sejak di bangku sekolah perlu ada penyemaian bibit dan perawatannya secara baik.

Sastra menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah yang harus berbagi waktu dengan mata pelajaran lain. Oleh sebab itu, mengandalkan munculnya penulis  muda dari pengajaran sastra saja sering tidak cukup. Banyak sekolah yang menutup kekurangan ini dengan membentuk ekstrakurikuler. Sekalipun demikian, banyak sekolah yang tidak mampu melakukan tambahan itu.

Olimpiade Sastra dimaksudkan untuk memberi stimulus terhadap pembinaan sastra di sekolah. Kegiatan ini diharapkan menciptakan dorongan bagi sekolah-sekolah untuk lebih meningkatkan pembinaan sastra di kalangan siswa.

Tujuan

Olimpiade Sastra ini dimaksudkan untuk memberikan motivasi bagi siswa dan sekolah untuk meningkatkan minat dan apresiasinya terhadap sastra.

Sasaran

Kegiatan ini ditujukan bagi siswa SMA/SMK/sederajat se-Bali.

Penyelenggara

Olimpiade Sastra ini diselenggarakan oleh Balai Bahasa Denpasar dan SMAN 3 Denpasar (Khusus Lomba Fragmen Monolog).

Alamat Sekretariat

Panitia Olimpiade Sastra SMA dan SMK 2009

Balai Bahasa Denpasar

Jalan Trengguli I/20 Tembau, Denpasar

Telepon 0361 461714, Fax 0361 463656

Email: balaibahasa_denpasar@yahoo.co.id

Lomba Fragmen Monolog (Diselenggarakan Oleh SMAN 3 Denpasar)

Posted in Lomba Fragmen Monolog by olimpiadesastra on Juli 14, 2009

Persyaratan Lomba Fragmen Monolog Olimpiade Sastra 2009

1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.

2. Setiap peserta menampilkan satu naskah monolog dengan tema, yaitu Bali Lampau, Kini dan Akan Datang.

3. Naskah Monolog berbahasa Indonesia, dapat disadur dari cerpen atau karya sastra lainnya.

4. Panitia menyediakan referensi naskah yang bisa dibawakan oleh peserta. Contoj naskah dapat dilihat dengan mengakses situs teater3.blogspot.com

5. Setiap sekolah mengirimkan maksimal 3 orang peserta.

6. Setiap peserta dipungut biaya pendaftaran sebesar Rp 30.000.

7. Pertemuan teknis dan pengambilan nomor undian dilaksanakan tanggal 7 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.

8. Lomba diselenggrakan pada tanggal 11-12 Agustus 2009 di SMAN 3 Denpasar, Jalan Nusa Indah No. 20 x Denpasar.

9. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:

Juara I                  Rp 1.000.000

Juara II                Rp 750.000

Juara III              Rp 500.000

10. Info lebih lanjut hubungi Novi (081 999 447 109 ), Togar (081 933 024 185), atau Nurpeni (081 805 641 275)

Lomba Musikalisasi Puisi

Posted in Lomba Musikalisasi Puisi by olimpiadesastra on Juli 14, 2009

Persyaratan Lomba Musikalisasi Puisi Olimpiade Sastra 2009

1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.

2. Peserta merupakan kelompok yang maksimal terdiri atas 6 orang dan mendaftar dengan surat keterangan dari sekolah.

3. Naskah puisi disediakan oleh Panitia.

4. Masing-masing peserta membawakan 2 puisi: satu berbahasa Indonesia dan satu berbahasa Bali.

5. Pendaftaran tidak dipungut biaya, ditutup 24 Juli 2009.

6. Pertemuan teknis dan pengambilan nomor undian dilaksanakan tanggal 7 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.

7. Lomba diselenggarakan pada tanggal 13-14 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.

8. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama dan tiga pemenang harapan yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:

Juara I                  Rp 3.500.000

Juara II                Rp 3.000.000

Juara III              Rp 2.500.000

Harapan I            Rp 2.000.000

Harapan II          Rp 1.500.000

Harapan III        Rp 1.500.000

Lomba Baca Puisi

Posted in Lomba Baca Puisi by olimpiadesastra on Juli 14, 2009

Persyaratan Lomba Baca Puisi Olimpiade Sastra 2009

1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.

2. Peserta wajib mendaftar dengan surat keterangan dari sekolah.

3. Peserta wajib membaca dua buah puisi dari kumpulan puisi yang disediakan oleh panitia.

4. Setiap sekolah mengirimkan maksimal dua orang peserta.

5. Pendaftaran tidak dipungut biaya, ditutup 24 Juli 2009.

6. Pertemuan teknis dan pengambilan nomor undian dilaksanakan tanggal 7 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.

7. Lomba diselenggarakan pada tanggal 13-14 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.

8. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama dan tiga pemenang harapan yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:

Juara I                  Rp 2.500.000

Juara II                Rp 2.000.000

Juara III              Rp 1.500.000

Harapan I            Rp 1.000.000

Harapan II          Rp 750.000

Harapan III        Rp 750.000

Lomba Menulis Esai

Posted in Lomba Menulis Esai by olimpiadesastra on Juli 14, 2009

Persyaratan Lomba Menulis Esai Olimpiade Sastra 2009

1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.

2. Naskah asli dan belum pernah dipublikasikan atau diikut sertakan dalam lomba yang lain.

3. Esai menggunakan Bahasa Indonesia.

4. Topik tentang sastra Indonesia ataupun sastra daerah, dengan mencantumkan sumber referensi yang jelas.

5. Naskah diketik rapi dengan jarak 1,5 spasi, jenis huruf Times New Roman ukuran 12pt pada kertas HVS ukuran A4 dan tidak bolak-balik.

5. Panjang satu esai maksimal 8 halaman.

7. Peserta oleh mengirimkan naskah lebih dari satu.

8. Naskah harus dilampiri pasfoto terakhir ukuran 3×4 dan surat keterangan dari sekolah.

9. Peserta harus menyertakan alamat dan nomor telepon atau faksimile (jika ada) dengan jelas agar mudah dihubungi.

10. Naskah yang masuk ke panitia menjadi milik panitia dan tidak akan dikembalikan kepada peserta.

11. Pendaftaran tidak dipungut biaya, ditutup 24 Juli 2009.

12. Naskah dikirim via pos atau diserahkan langsung kepada Panitia Olimpiade Sastra SM dan SMK 2009 Balai Bahasa Denpasar, sebanyak 4 eksemplar.

13. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama dan tiga pemenang harapan yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:

Juara I                  Rp 3.000.000

Juara II                Rp 2.500.000

Juara III              Rp 2.000.000

Harapan I            Rp 1.500.000

Harapan II          Rp 1.000.000

Harapan III        Rp 1.000.000

Lomba Menulis Cerpen

Posted in Lomba Menulis Cerpen by olimpiadesastra on Juli 14, 2009

Persyaratan Lomba Menulis Cerpen Olimpiade Sastra 2009

1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.

2. Naskah asli dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan dalam lomba yang lain.

3. Cerpen menggunakan Bahasa Indonesia.

4. Tema bebas, tidak mengarah pada pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.

5. Naskah diketik rapi dengan jarak 1,5 spasi, jenis huruf Times New Roman ukuran 12pt pada kertas HVS ukuran A4 dan tidak bolak-balik.

5. Panjang satu cerpen maksimal 8 halaman.

7. Peserta oleh mengirimkan naskah lebih dari satu.

8. Naskah harus dilampiri pasfoto terakhir ukuran 3×4 dan surat keterangan dari sekolah.

9. Peserta harus menyertakan alamat dan nomor telepon atau faksimile (jika ada) dengan jelas agar mudah dihubungi.

10. Naskah yang masuk ke panitia menjadi milik panitia dan tidak akan dikembalikan kepada peserta.

11. Pendaftaran tidak dipungut biaya, ditutup 24 Juli 2009.

12. Naskah dikirim via pos atau diserahkan langsung kepada Panitia Olimpiade Sastra SM dan SMK 2009 Balai Bahasa Denpasar, sebanyak 4 eksemplar.

13. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama dan tiga pemenang harapan yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:

Juara I                  Rp 2.500.000

Juara II                Rp 2.000.000

Juara III              Rp 1.500.000

Harapan I            Rp 1.000.000

Harapan II          Rp 750.000

Harapan III        Rp 750.000

Lomba Menulis Puisi

Posted in Lomba Menulis Puisi by olimpiadesastra on Juli 14, 2009

Persyaratan Lomba Menulis Puisi Olimpiade Sastra 2009

1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.

2. Naskah asli dan belum pernah dipublikasikan atau diikut sertakan dalam lomba yang lain.

3. Puisi menggunakan Bahasa Indonesia.

4. Tema bebas, tidak mengarah pada pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA.

5. Naskah diketik rapi dengan jarak 1,5 spasi, jenis huruf Times New Roman ukuran 12pt pada kertas HVS ukuran A4 dan tidak bolak-balik.

5. Panjang satu puisi maksimal 2 halaman.

7. Peserta oleh mengirimkan naskah lebih dari satu.

8. Naskah harus dilampiri pasfoto terakhir ukuran 3×4 dan surat keterangan dari sekolah.

9. Peserta harus menyertakan alamat dan nomor telepon atau faksimile (jika ada) dengan jelas agar mudah dihubungi.

10. Naskah yang masuk ke panitia menjadi milik panitia dan tidak akan dikembalikan kepada peserta.

11. Pendaftaran tidak dipungut biaya, ditutup 24 Juli 2009.

12. Naskah dikirim via pos atau diserahkan langsung kepada Panitia Olimpiade Sastra SM dan SMK 2009 Balai Bahasa Denpasar, sebanyak 4 eksemplar.

13. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama dan tiga pemenang harapan yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:

Juara I                  Rp 2.500.000

Juara II                Rp 2.000.000

Juara III              Rp 1.500.000

Harapan I            Rp 1.000.000

Harapan II          Rp 750.000

Harapan III        Rp 750.000

Naskah Lomba Musikalisasi Puisi Olimpiade Sastra 2009

Posted in Lomba Musikalisasi Puisi by olimpiadesastra on Juni 15, 2009

Made Taro

S  U  T

Jrijiné pada kembang

ngrebutin kalah-menang

don

batu

dui

gunting

dluang

tembang

suryak

kalah-menang

bingar kembang

Jrijiné pada kembang

ngrebutin kalah-menang

jadma

buron

semut

gajah

agung alit

nista utama

temah-katemah

amah-kaamah

menang-kalah

bareng gelah

barengé makada payu

Denpasar, 2002

Ki Dusun

KAYU CENANAN

aggen anggan jerone

sareng sarin wikane

sekadi kayu cenana

larapan tunggal adnyana

kayu cenana setata utama

yadin numbuhin alas durgama

akah tumbuh punya mapunduh

genah dayuh galah madayuh

bunga nyawane ngisepin

lunggah kedise ninggahin

carang lutunge ngantungin

bongkol lipine mulesin

kalud matatu kagitik

kasepeg katektek kakandik

tegeg ngampehang miik

—————————————————————————————————

Djelantik Santha

YEH UNDA

Kala gentuh madaluran

kadi buduh

puek lideg ngundangbaya

ngunda bantang, bias, batu,

asing babar brasta

tan pangetang dosa

Mula ring Yeh Unda

rikala ening

ngundang kenyem manis

makerem masanding soring iding

pakedek pakenyung, linglung

batune satmaka ceti

patemon smara ratih

Nanging sampunang iri

saking nguni

yeh Unda mula masari

batune kasuun siki-siki, katepi

biase kasidi wanti-wanti

sami ngetut wuri

mula saking ican Hyang Widhi, ring Yeh Unda

batu, bias, dados nasi

Klungkung, 11 Januari 1977

————————————————————————————————–

Ni Kadek Widiasih

GEGÉNDONG

Mula lawas tanpa dasar

Rasa mapunya lacuré mentik

Kema-mai natakang lima

Ngruruh ajah ngulahang keneh

Gegéndong

Kenyel ngoda tusing karenga

Nyujuh urip uli gegéndong

Uli gegéndong nyikutang raga

Ngalih sang maraga guru

Nyupat kabelogan makekuluh sastra

Gegéndong,

Uli aget magandong sastra

Waluya gegéndong

Gegéndong sang pradnyan

Karangasem, 4 September 2007

————————————————————————————————–

Luh Suwita Utami

MAKENYEM

Makenyem giginné gingsul

Makenyem, jero ayu…

Kadén nyen suba bajang

Kembang bungan natah

Masari kuning gading

Ngindang i kekupu

Makampid lumbang

Makenyem, makenyem Jero ayu

Apang ilang kangenne di hati

makenyem, makenyem Jero ayu

apang galang dinane jani

makenyem, makenyem jero ayu

kadén jero suba bajang

————————————————————————————————–

Made Adnyana Ole

DEWI PADI

Dewi Padi,

Kekasih sejati segala yang hidup

Kelak membajak bumi sendiri

Bersama sapi suci dan air perasan hati

Sementara anak-anakku

yang biasa meniup seruling

dari liang perih batang padi

Kini menjala bulu bangau dan sayap belalang

yang rontok dari langit

Bagaimana mereka bisa dewasa?

Sedang musim selalu saja ingkar janji

Tapi sesungguhnya darimana asal-Mu, Dewi?

Sedang segala dongeng hari ini

meminta-Mu pulang ke tugu-tugu tua

ke hulu hati-hati yang kupuja

Biar belalang menggoda musim

Bangau-bangau pulang. Dan anak-anakku

bermain di pelimbahan

Dewi Padi

Kelak mendongeng sendiri

tentang segala yang tak ada

1997

————————————————————————————————–

Warih Wisatsana

SETEGUK TANGIS

Kepada ULP

Sebab cucuran tangis tak kuasa

membujuk maut

Sekarat di rumputan seekor kuda bergulingan

Terbang ringkiknya menembus

nganga langit.

Di kilau matanya bulan merah berayun

semerah mawar darah,

Di matanya yang penuh isak kupu-kupu

Aku melihat

seorang lelaki berlari sepanjang malam

mengulum tangis

Seorang lelaki yang tak terbayangkan

oleh maut

Tak kuasa menolak takdirnya

Berlari di rumput

nganga langit. Bergulingan

di lengang padang bintang!

Pada lembar nyeri hari

pada kertas napas diri

Tangisnya leleh menulisi

kesedihanmu,

O, kuda yang sekarat dilecut maut

Biarkan lelaki itu dipacu ngilu waktu

berguling dihela ringkik senja

Sampai peluh darah

mengulum kata terakhir,

Terbang bersama arwah mawar

dan hantu kupu-kupu

menembus nganga tangis

Bersama penghabisan ringkikmu.

————————————————————————————————–

Wayan Sunarta

MEMBURU MATAHARI

matahari melintas di gigir senja

hanya sampai di batas pantai ini

kau tentukan langkahku

hingga tebing waktu

sia-sia kudaki

tangan-tangan gaib

menampar wajahku

aku terpelanting

terperangkap

dalam galau angin

mataku meluntur

laut kelabu

mulut ombak menganga

menerkam tubuhku

berwaktu-waktu kuburu matahari

yang membeku dalam jantungmu

namun kini tubuhku

menggumpal dalam ususmu

sebentar lagi habis kau cerna

1993

————————————————————————————————–

Tan Lioe le

AKU DANAU; AKU LAUT

Aku danau yang menadah bening hujan

Ikan-ikan dengan sirip letih

bermain di ganggang dan sejuk airku

Bulan, bintang yang kupunya

Hanya cahaya dan bayangan.

Aku laut yang menampung keruh sungai

Kelepak duka camar terakhir

dititipkan di pucuk gelombangku

Sesekali kulepas rinduku pada pasir

Tapi selalu ada saat untuk surut menjauh.

————————————————————————————————-

Oka Rusmini

ROMANTISME DAUN-DAUN KERING

mencintaimu

seperti mencintai daun-daun kering

mengotori tanah

menurunkan pahatan imajinasi

yang kurangkai di langit

memilikimu

seperti memiliki daun-daun kering

tak berwujud

cuaca telah memeras taksumu

tak tersentuh matahari pagiku

menatapmu

seperti menatap daun-daun kering

segumpal nanah dan kekacauan menetes di matamu

jatuh ke tanah

menyuburkan akar pohonku

mendekapmu

seperti mendekap daun-daun kering

rohnya batu

apinya retakan tanah dan sungai

permainan ini

kartu-kartu tanpa nafas

1996

————————————————————————————————–

Sindu Putra

IBU MENDOAKAN

ibu mendoakan aku

jadi Sita

rama-rama membawaku

Pada Rama

ibu memintaku memasuki dunia

mengenakan kain berlukiskan

bulan gerhana dan pohon ajaib

ibu turunkan dari langit

sebuah kapal

sebesar suatu negeri

negeri tiada burung

ibu tahtakan terajala di keningku

mencari nama Tuhan

di antara rasa sakit

sakit perempuan melahirkan

sejarah tiba: anak lahir

jadi, apa arti tarian pernikahan ini!

ibu mendoakan aku

dilahirkan Sita

rama-rama membawaku pada Rama

Mataram 2007

Naskah Lomba Baca Puisi Olimpiade Sastra 2009

Posted in Lomba Baca Puisi by olimpiadesastra on Juni 15, 2009

Subagio Sastrowardoyo:

MANUSIA PERTAMA DI ANGKASA LUAR

Beritakan kepada dunia

Bahwa aku telah sampai pada tepi

Darimana aku tak mungki9n lagi kelmbali.

Aku kini melayang di tenagh ruang

Di mana tak terpisah  malam dan siang.

Hanya lautan yang hampa di lingkung cemerlang bintang.

Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang.

Jagat begitu tenang. Tidak lapar

Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di rumah.

Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah.

Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu

Dengan membawa dongeng  dalam mimpi tentang bota

Dan raksasa, peri dan bidadari. Aku teringat

Kepada buku cerita  yang terlipat dalam lemari.

Aku teringat kepada bunga mawar dari Elisa

Yang terselip dalam surat yang membisikkan  cintanya kepadaku

Yang mesra. Dia kini tentu ada di jendela

Dengan Alex dan Leo, –  itu anak-anak berandal yang kucinta –

Memandangi langit dengan sia. Hendak menangkap

Sekelumit dari pesawatku, seleret dari

Perlawatanku di langit tak berberita.

Masihkah langit mendung seperti waktu

Kutinggalkan kemarin dulu?

Apa  yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita.

Sebab semua telah terbang bersama kereta

ruang ke jagat tak berhuni. Tetapi

ada barangkali. Berilah aku satu kata puisi

dari pada seribu rumus ilmu yang penuh janji

yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi

yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi

Tetapi aku telah sampai pada tepi

Darimana aku tak mungkin lagi kembali.

Ciumku kepada istri, kepada anak dan ibuku

Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang.

Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.

Aku makin jauh, makin jauh

Dari bumi yang kukasih. Hati makin sepi

Makin gemuruh

Bunda,

Jangan membiarkan aku sendiri.

____________________________________________________________________________________

Goenawan Muhamad:

DI MUKA JENDELA

Di sini

Cemara pun gugur daun. Dan kembali

Ombak-ombak hancur terbantun.

Di sini

Kemarau pun menghembus bumi

Menghembus pasir , dingin dan malam hari

Ketika kedamaian pun datang memanggil

Ketika angin terputus-putus di hatimu menggigil

Dan sebuah kata merekah

Diucapkan ke ruang yang jauh: — Datanglah!

Ada sepasang bukit, meruncing merah

dari tanah padang-padang yang tengadah

tanah padang-padang terkukur

di mana tangan-hatimu terulur. Pula

ada menggasing kincir yang sunyi

ketika senja mengerdip, dan di ujung benua

memecah pelangi:

Tidakkah siapa pun lahir kembali di detik begini

ketika bangkit bumi,

sajak biru abadi,

dalam kristal kata

dalam pesona?

____________________________________________________________________________________

Abdul Hadi W.M.:

UNTUK SEBUAH CATATAN HARIAN

Di bawah seribu mawar

Bulan Juli yang terbakar

Dan langit musim panas

Matahari berganti-ganti

Ada bayangan daun gugur

Pada tingkap musim mencari

Serta kuntum-kuntum kapur

Dan kota yang semakin sunyi

Malam: Beberapa jejak sudah di jalan itu

Dan gerimis yang pulang sendiri

Ketika lonceng dari gereja mati

Ketika pelabuhan dari pulau abadi

Kau berkata, tak ada stasiun

Sebelum kereta memencar

Kau berkata, tak ada daun

Sebelum pohon berakar

Di bawah seribu mawar

Bulan Juli yang terbakar

Dan langit musim panas

Matahari menyuling keras sekali

____________________________________________________________________________________

Ngurah Parsua:

PENGAKUAN SEORANG PEREMPUAN JALANAN

Tuhan adakah ruang sekapan bagiku?

ini doa perempuan malam

lelaki masih putih-putih doanya

Aku kenal dari tajam mata memandang

Menyayat keadilan keadilan kiranya

–          kereta api malam membelah sunyi

malam perjalanan-

Nenek tua memandang warnanya gemetaran

– bukankah setiap doa tergapai bagiNya?

perempuan perempuan seperti bunga saja –

semerbak untuk terlupa dan dilupakan

lelaki seperti bebas dari warnanya

Demi lapar laparlah menyeretnya,

harga kehidupan bergincu gincu, Tuhanku

Dan lelaki mulia bebas, dari

warna palsu diukir kepalsuan

–          ada tempat doakah untuk doaku; Yang Mulia ?-

Lelaki berpakaian bebas saja

seperti bebas warna dosanya

menelusup ke dalam tulang belulang

perempuan tertawa lepas bebas saja

menyimpan luka hatinya – nenek tua –

menggoncangkan rambutnya tua menghiba

Mungkinkah, Tuhan tersenyum menyimpan setiap doa

pengakuan, membagi ruang sorga neraka

Barangkali; dicatatnya pada langit kekal hampa

Siapakah datang bagi kudus doa?

Kesadaran kapas putih terbang perlahan

____________________________________________________________________________________

Frans Nadjira:

SAJAK BONSAI MEMANDANG PAGI

Jadi apa makna bercak darah?

Tirai tembus pandang bergetar dalam cahaya

ketika dingin menyentuh kemilau embun

Ia ingat jejak mawar dan semua yang pernah

menyapanya Ia ingat:

potret mempelai dalam pakaian adat

seperai dengan tulisan tangan

tak terbaca. Ah

perkawinan. Akar pohon kerdil.

Yang sengaja dikerdilkan

Beringin kecil dekat jendela.

Sesudah sarang merpati, pemandangan menjadi

biasa dengan akar-akar kerdil dan ikan hias

Dan ia membasuh tangannya dengan wajah bahagia

Serta segala yang pantas diperhatikan

____________________________________________________________________________________

Yudhistira ANM Massardi:

BIARIN!

kamu bilang hidup in brengsek. Aku bilang biarin

kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin

kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin

kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu

tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana

cuman, karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti

itu

kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin

kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin

soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?

aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu

aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia

ini. Iya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi

habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba

bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan

seperti kamu sadari sekarang ini

kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin

kamu bilang itu menyakitkan

____________________________________________________________________________________

Sutardji Calzoum Bashri

TANAH AIRMATA

tanah mata air mata kami tumpah dukaku

disinilah kami berdiri

menyanyikan air mata kami

dibalik gembur subur tanahmu

kami simpan perih kami

dibalik etalase megah gedung-gedungmu

kami coba sembunyikan derita kami

kami coba simpan nestapa

kami coba kuburkan dukalara

tapi perih tak bisa sembunyi ia merebak kemana-mana

bumi tak sebatas pandang

dan udara luas menunggu

namun kalian takkan bisa menyingkir

kemanapun melangkah

kakian pijak airmata kami

kemenapun terbang

kalian kan hinggap di airmata

kami kemanapun berlayar

kalian arungi airmata kami

kalian sudah terkepung

takkan bisa mengelak

takkan bisa kemana pergi

menyerahlah pada kedalaman air mata kami

____________________________________________________________________________________

Rendra:

SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja

Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.

Amarah merajalela tanpa alamat.

Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.

Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah.

O, zaman edan!

O, malam kelam pikiran insan!

Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.

Kitab undang-undang tergeletak di selokan.

Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.

O, tata warna fatamorgana kekuasaan!

O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!

Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa

Allah selalu mengingatkan

bahwa hukum harus lebih tinggi

dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.

O kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!

O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!

Berhentilah mencari Ratu Adil!

Ratu Adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya!

Apa yang harus kita tegakkan bersama

adalah Hukum Adil.

Hukum Adil adalah  bintang pedoman di dalam prahara.

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara

menjadi saksi yang akan berkata:

Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,

apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,

apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,

maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,

lalu mejadi penjarah di pasar dan jalan raya.

Wahai, penguasa dunia yang fana!

Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!

Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?

Apakah masih akan menipu diri sendiri?

Apabila saran akal sehat kamu remehkan

berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap

yang akan muncul dari sudut-sudut gelap

telah kamu bukakan!

Cadar kabut dukacita menutup wajah Ibu Pertiwi.

Air mata mengalir dari sajakku ini.

____________________________________________________________________________________

Camar Samar:

ANAK EMAK

(Ketika_masa kanak-kanak)

Aku bertanya pada Emak

Saat tengah:malam ada tangisan anak

Kata Emak

Itu suara anak nakal diganggu setan beranak

Aku takut setan beranak

Kata Emak                                                                .

Tak usah takut, karena ada dewi yang menyulam taplak

Tak percaya mata terbelalak

Ku disuruh mengintip lewat dinding bambu yang sedikit koyak

Kulihat rembulan ada dewi yang menjaga sambil menyulam  taplak

Aku terlelap dipangkuan Emak

Berselimut kemben emak

(Ketika masa sekolah)

Emak menisik baju

Bekas teman Bapak dahulu

Emak memberiku pensil kayu buku biru

Ketika aku terbata membaca buku

Kata Emak padaku

Rajinlah belajar dahulu   ­

Kelak jadi dokter atau guru

Aku duduk di sekolah inpres baru

(Ketika masa remaja.)

Aku ingin sekolah lanjutan

Seperti Udin yang ayahnya angkatan

Seperti Sari yang ibunya rajin arisan

atau seperti A Hong yang papahnya punya toko di pasar Wetan

(Ketika kuutarakan pada Emak)

Emak menjawab dengan sedu sedan

Tak punya uang untuk sekolah lanjutan

Emak dan Bapak hanya kuli sawah musiman

(Ketika sudah dewasa)

Kulihat si Udin jadi tentara

Sari jadi dokter muda

A Hong jadi sarjana

Aku jadi kuli sawah tetangga

Ah, aku si Anak Emak   .

Tak akan jadi dokter yang akan mengobati encok Bapak

Tak akan jadi guru yang akan mengajar membaca Emak

Dan tak akan takut pada setan beranak

____________________________________________________________________________________

Husni Djamaluddin:

INDONESIA, MASIHKAH ENGKAU TANAH AIRKU?

Indonesia

Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku digusur

Dari tanah leluhur

Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Di sanalah airku dikemas

Dalam botol-botol aqua

Indonesia tanah airku

Di sanalah aku berdiri

Jadi kuli sepanjang hari

Jadi satpam sepanjang malam

Indonesia tanah airku

Indonesia di manakah tanahku

Indonesia tanah airku

Indonesia di manakah airku

Indonesia tanah airku

Tanah bukan tanahku

Indonesia tanah airku

Air bukan airku

Indonesia, masihkah engkau tanha airku?

Tuhan, jangan cabut Indonesiaku

Dari dalam hatiku