OLIMPIADE SASTRA-BALAI BAHASA DENPASAR

Lomba Musikalisasi Puisi

Posted in Lomba Musikalisasi Puisi by olimpiadesastra on Juli 14, 2009

Persyaratan Lomba Musikalisasi Puisi Olimpiade Sastra 2009

1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.

2. Peserta merupakan kelompok yang maksimal terdiri atas 6 orang dan mendaftar dengan surat keterangan dari sekolah.

3. Naskah puisi disediakan oleh Panitia.

4. Masing-masing peserta membawakan 2 puisi: satu berbahasa Indonesia dan satu berbahasa Bali.

5. Pendaftaran tidak dipungut biaya, ditutup 24 Juli 2009.

6. Pertemuan teknis dan pengambilan nomor undian dilaksanakan tanggal 7 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.

7. Lomba diselenggarakan pada tanggal 13-14 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.

8. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama dan tiga pemenang harapan yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:

Juara I                  Rp 3.500.000

Juara II                Rp 3.000.000

Juara III              Rp 2.500.000

Harapan I            Rp 2.000.000

Harapan II          Rp 1.500.000

Harapan III        Rp 1.500.000

Naskah Lomba Musikalisasi Puisi Olimpiade Sastra 2009

Posted in Lomba Musikalisasi Puisi by olimpiadesastra on Juni 15, 2009

Made Taro

S  U  T

Jrijiné pada kembang

ngrebutin kalah-menang

don

batu

dui

gunting

dluang

tembang

suryak

kalah-menang

bingar kembang

Jrijiné pada kembang

ngrebutin kalah-menang

jadma

buron

semut

gajah

agung alit

nista utama

temah-katemah

amah-kaamah

menang-kalah

bareng gelah

barengé makada payu

Denpasar, 2002

Ki Dusun

KAYU CENANAN

aggen anggan jerone

sareng sarin wikane

sekadi kayu cenana

larapan tunggal adnyana

kayu cenana setata utama

yadin numbuhin alas durgama

akah tumbuh punya mapunduh

genah dayuh galah madayuh

bunga nyawane ngisepin

lunggah kedise ninggahin

carang lutunge ngantungin

bongkol lipine mulesin

kalud matatu kagitik

kasepeg katektek kakandik

tegeg ngampehang miik

—————————————————————————————————

Djelantik Santha

YEH UNDA

Kala gentuh madaluran

kadi buduh

puek lideg ngundangbaya

ngunda bantang, bias, batu,

asing babar brasta

tan pangetang dosa

Mula ring Yeh Unda

rikala ening

ngundang kenyem manis

makerem masanding soring iding

pakedek pakenyung, linglung

batune satmaka ceti

patemon smara ratih

Nanging sampunang iri

saking nguni

yeh Unda mula masari

batune kasuun siki-siki, katepi

biase kasidi wanti-wanti

sami ngetut wuri

mula saking ican Hyang Widhi, ring Yeh Unda

batu, bias, dados nasi

Klungkung, 11 Januari 1977

————————————————————————————————–

Ni Kadek Widiasih

GEGÉNDONG

Mula lawas tanpa dasar

Rasa mapunya lacuré mentik

Kema-mai natakang lima

Ngruruh ajah ngulahang keneh

Gegéndong

Kenyel ngoda tusing karenga

Nyujuh urip uli gegéndong

Uli gegéndong nyikutang raga

Ngalih sang maraga guru

Nyupat kabelogan makekuluh sastra

Gegéndong,

Uli aget magandong sastra

Waluya gegéndong

Gegéndong sang pradnyan

Karangasem, 4 September 2007

————————————————————————————————–

Luh Suwita Utami

MAKENYEM

Makenyem giginné gingsul

Makenyem, jero ayu…

Kadén nyen suba bajang

Kembang bungan natah

Masari kuning gading

Ngindang i kekupu

Makampid lumbang

Makenyem, makenyem Jero ayu

Apang ilang kangenne di hati

makenyem, makenyem Jero ayu

apang galang dinane jani

makenyem, makenyem jero ayu

kadén jero suba bajang

————————————————————————————————–

Made Adnyana Ole

DEWI PADI

Dewi Padi,

Kekasih sejati segala yang hidup

Kelak membajak bumi sendiri

Bersama sapi suci dan air perasan hati

Sementara anak-anakku

yang biasa meniup seruling

dari liang perih batang padi

Kini menjala bulu bangau dan sayap belalang

yang rontok dari langit

Bagaimana mereka bisa dewasa?

Sedang musim selalu saja ingkar janji

Tapi sesungguhnya darimana asal-Mu, Dewi?

Sedang segala dongeng hari ini

meminta-Mu pulang ke tugu-tugu tua

ke hulu hati-hati yang kupuja

Biar belalang menggoda musim

Bangau-bangau pulang. Dan anak-anakku

bermain di pelimbahan

Dewi Padi

Kelak mendongeng sendiri

tentang segala yang tak ada

1997

————————————————————————————————–

Warih Wisatsana

SETEGUK TANGIS

Kepada ULP

Sebab cucuran tangis tak kuasa

membujuk maut

Sekarat di rumputan seekor kuda bergulingan

Terbang ringkiknya menembus

nganga langit.

Di kilau matanya bulan merah berayun

semerah mawar darah,

Di matanya yang penuh isak kupu-kupu

Aku melihat

seorang lelaki berlari sepanjang malam

mengulum tangis

Seorang lelaki yang tak terbayangkan

oleh maut

Tak kuasa menolak takdirnya

Berlari di rumput

nganga langit. Bergulingan

di lengang padang bintang!

Pada lembar nyeri hari

pada kertas napas diri

Tangisnya leleh menulisi

kesedihanmu,

O, kuda yang sekarat dilecut maut

Biarkan lelaki itu dipacu ngilu waktu

berguling dihela ringkik senja

Sampai peluh darah

mengulum kata terakhir,

Terbang bersama arwah mawar

dan hantu kupu-kupu

menembus nganga tangis

Bersama penghabisan ringkikmu.

————————————————————————————————–

Wayan Sunarta

MEMBURU MATAHARI

matahari melintas di gigir senja

hanya sampai di batas pantai ini

kau tentukan langkahku

hingga tebing waktu

sia-sia kudaki

tangan-tangan gaib

menampar wajahku

aku terpelanting

terperangkap

dalam galau angin

mataku meluntur

laut kelabu

mulut ombak menganga

menerkam tubuhku

berwaktu-waktu kuburu matahari

yang membeku dalam jantungmu

namun kini tubuhku

menggumpal dalam ususmu

sebentar lagi habis kau cerna

1993

————————————————————————————————–

Tan Lioe le

AKU DANAU; AKU LAUT

Aku danau yang menadah bening hujan

Ikan-ikan dengan sirip letih

bermain di ganggang dan sejuk airku

Bulan, bintang yang kupunya

Hanya cahaya dan bayangan.

Aku laut yang menampung keruh sungai

Kelepak duka camar terakhir

dititipkan di pucuk gelombangku

Sesekali kulepas rinduku pada pasir

Tapi selalu ada saat untuk surut menjauh.

————————————————————————————————-

Oka Rusmini

ROMANTISME DAUN-DAUN KERING

mencintaimu

seperti mencintai daun-daun kering

mengotori tanah

menurunkan pahatan imajinasi

yang kurangkai di langit

memilikimu

seperti memiliki daun-daun kering

tak berwujud

cuaca telah memeras taksumu

tak tersentuh matahari pagiku

menatapmu

seperti menatap daun-daun kering

segumpal nanah dan kekacauan menetes di matamu

jatuh ke tanah

menyuburkan akar pohonku

mendekapmu

seperti mendekap daun-daun kering

rohnya batu

apinya retakan tanah dan sungai

permainan ini

kartu-kartu tanpa nafas

1996

————————————————————————————————–

Sindu Putra

IBU MENDOAKAN

ibu mendoakan aku

jadi Sita

rama-rama membawaku

Pada Rama

ibu memintaku memasuki dunia

mengenakan kain berlukiskan

bulan gerhana dan pohon ajaib

ibu turunkan dari langit

sebuah kapal

sebesar suatu negeri

negeri tiada burung

ibu tahtakan terajala di keningku

mencari nama Tuhan

di antara rasa sakit

sakit perempuan melahirkan

sejarah tiba: anak lahir

jadi, apa arti tarian pernikahan ini!

ibu mendoakan aku

dilahirkan Sita

rama-rama membawaku pada Rama

Mataram 2007

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.