UNDANGAN: DIALOG BUDAYA DAN PELUNCURAN BUKU SERI PUISI JERMAN V ‘HANS MAGNUS ENZENSBERGER’
UNDANGAN:
DIALOG BUDAYA DAN PELUNCURAN BUKU SERI PUISI JERMAN V ‘HANS MAGNUS ENZENSBERGER’
Bekerjasama dengan Goethe Institut Jakarta dan Balai Bahasa Denpasar, pada pertengahan Agustus 2009, Komunitas Sahaja akan menyelenggarakan sebuah acara Dialog Budaya dan Peluncuran Buku karya Hans Magnus Enzensberger, salah satu penyair mumpuni Jerman. Buku Kumpulan Puisi ini merupakan upaya penerbitan Seri Puisi Jerman yang kelima.
Menampilkan dua pembicara yang juga sekaligus penerjemah karya Enzensberger dari bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia, yakni Berthold Damshauser (Jerman) dan Agus R. Sarjono (Indonesia).
Selain itu, akan digelar pula pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan nomor pertunjukan lainnya. Acara diselenggarakan pada:
Hari, tanggal : Sabtu, 15 Agustus 2009
Waktu : Pukul 17.00– 21.00 WITA
Tempat : Studio Ramayana, Radio Republik Indonesia (RRI) Denpasar Jalan Hayam Wuruk 70 Denpasar, Bali
Atas partisipasi Anda, kami mengucapkan terima kasih Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Komunitas Sahaja 081916124550 / 087860947414 atau via email ke komunitas.sahaja@yahoo.com
Sekilas Pandang Olimpiade Sastra-Balai Bahasa 2009
Latar Belakang
Perkembangan sastra Indonesia dan daerah banyak ditentukan oleh munculnya para penulis muda. Namun, kehadiran mereka memerlukan atmosfer yang kondusif. Untuk itu, sejak di bangku sekolah perlu ada penyemaian bibit dan perawatannya secara baik.
Sastra menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah yang harus berbagi waktu dengan mata pelajaran lain. Oleh sebab itu, mengandalkan munculnya penulis muda dari pengajaran sastra saja sering tidak cukup. Banyak sekolah yang menutup kekurangan ini dengan membentuk ekstrakurikuler. Sekalipun demikian, banyak sekolah yang tidak mampu melakukan tambahan itu.
Olimpiade Sastra dimaksudkan untuk memberi stimulus terhadap pembinaan sastra di sekolah. Kegiatan ini diharapkan menciptakan dorongan bagi sekolah-sekolah untuk lebih meningkatkan pembinaan sastra di kalangan siswa.
Tujuan
Olimpiade Sastra ini dimaksudkan untuk memberikan motivasi bagi siswa dan sekolah untuk meningkatkan minat dan apresiasinya terhadap sastra.
Sasaran
Kegiatan ini ditujukan bagi siswa SMA/SMK/sederajat se-Bali.
Penyelenggara
Olimpiade Sastra ini diselenggarakan oleh Balai Bahasa Denpasar dan SMAN 3 Denpasar (Khusus Lomba Fragmen Monolog).
Alamat Sekretariat
Panitia Olimpiade Sastra SMA dan SMK 2009
Balai Bahasa Denpasar
Jalan Trengguli I/20 Tembau, Denpasar
Telepon 0361 461714, Fax 0361 463656
Email: balaibahasa_denpasar@yahoo.co.id
Lomba Fragmen Monolog (Diselenggarakan Oleh SMAN 3 Denpasar)
Persyaratan Lomba Fragmen Monolog Olimpiade Sastra 2009
1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.
2. Setiap peserta menampilkan satu naskah monolog dengan tema, yaitu Bali Lampau, Kini dan Akan Datang.
3. Naskah Monolog berbahasa Indonesia, dapat disadur dari cerpen atau karya sastra lainnya.
4. Panitia menyediakan referensi naskah yang bisa dibawakan oleh peserta. Contoj naskah dapat dilihat dengan mengakses situs teater3.blogspot.com
5. Setiap sekolah mengirimkan maksimal 3 orang peserta.
6. Setiap peserta dipungut biaya pendaftaran sebesar Rp 30.000.
7. Pertemuan teknis dan pengambilan nomor undian dilaksanakan tanggal 7 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.
8. Lomba diselenggrakan pada tanggal 11-12 Agustus 2009 di SMAN 3 Denpasar, Jalan Nusa Indah No. 20 x Denpasar.
9. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:
Juara I Rp 1.000.000
Juara II Rp 750.000
Juara III Rp 500.000
10. Info lebih lanjut hubungi Novi (081 999 447 109 ), Togar (081 933 024 185), atau Nurpeni (081 805 641 275)
Lomba Musikalisasi Puisi
Persyaratan Lomba Musikalisasi Puisi Olimpiade Sastra 2009
1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.
2. Peserta merupakan kelompok yang maksimal terdiri atas 6 orang dan mendaftar dengan surat keterangan dari sekolah.
3. Naskah puisi disediakan oleh Panitia.
4. Masing-masing peserta membawakan 2 puisi: satu berbahasa Indonesia dan satu berbahasa Bali.
5. Pendaftaran tidak dipungut biaya, ditutup 24 Juli 2009.
6. Pertemuan teknis dan pengambilan nomor undian dilaksanakan tanggal 7 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.
7. Lomba diselenggarakan pada tanggal 13-14 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.
8. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama dan tiga pemenang harapan yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:
Juara I Rp 3.500.000
Juara II Rp 3.000.000
Juara III Rp 2.500.000
Harapan I Rp 2.000.000
Harapan II Rp 1.500.000
Harapan III Rp 1.500.000
Lomba Baca Puisi
Persyaratan Lomba Baca Puisi Olimpiade Sastra 2009
1. Peserta adalah siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.
2. Peserta wajib mendaftar dengan surat keterangan dari sekolah.
3. Peserta wajib membaca dua buah puisi dari kumpulan puisi yang disediakan oleh panitia.
4. Setiap sekolah mengirimkan maksimal dua orang peserta.
5. Pendaftaran tidak dipungut biaya, ditutup 24 Juli 2009.
6. Pertemuan teknis dan pengambilan nomor undian dilaksanakan tanggal 7 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.
7. Lomba diselenggarakan pada tanggal 13-14 Agustus 2009 di Balai Bahasa Denpasar.
8. Dewan Juri akan menetapkan tiga juara utama dan tiga pemenang harapan yang masing-masing berhak atas piala, piagam serta dana pembinaan senilai:
Juara I Rp 2.500.000
Juara II Rp 2.000.000
Juara III Rp 1.500.000
Harapan I Rp 1.000.000
Harapan II Rp 750.000
Harapan III Rp 750.000
Naskah Lomba Musikalisasi Puisi Olimpiade Sastra 2009
Made Taro
S U T
Jrijiné pada kembang
ngrebutin kalah-menang
don
batu
dui
gunting
dluang
tembang
suryak
kalah-menang
bingar kembang
Jrijiné pada kembang
ngrebutin kalah-menang
jadma
buron
semut
gajah
agung alit
nista utama
temah-katemah
amah-kaamah
menang-kalah
bareng gelah
barengé makada payu
Denpasar, 2002
Ki Dusun
KAYU CENANAN
aggen anggan jerone
sareng sarin wikane
sekadi kayu cenana
larapan tunggal adnyana
kayu cenana setata utama
yadin numbuhin alas durgama
akah tumbuh punya mapunduh
genah dayuh galah madayuh
bunga nyawane ngisepin
lunggah kedise ninggahin
carang lutunge ngantungin
bongkol lipine mulesin
kalud matatu kagitik
kasepeg katektek kakandik
tegeg ngampehang miik
—————————————————————————————————
Djelantik Santha
YEH UNDA
Kala gentuh madaluran
kadi buduh
puek lideg ngundangbaya
ngunda bantang, bias, batu,
asing babar brasta
tan pangetang dosa
Mula ring Yeh Unda
rikala ening
ngundang kenyem manis
makerem masanding soring iding
pakedek pakenyung, linglung
batune satmaka ceti
patemon smara ratih
Nanging sampunang iri
saking nguni
yeh Unda mula masari
batune kasuun siki-siki, katepi
biase kasidi wanti-wanti
sami ngetut wuri
mula saking ican Hyang Widhi, ring Yeh Unda
batu, bias, dados nasi
Klungkung, 11 Januari 1977
————————————————————————————————–
Ni Kadek Widiasih
GEGÉNDONG
Mula lawas tanpa dasar
Rasa mapunya lacuré mentik
Kema-mai natakang lima
Ngruruh ajah ngulahang keneh
Gegéndong
Kenyel ngoda tusing karenga
Nyujuh urip uli gegéndong
Uli gegéndong nyikutang raga
Ngalih sang maraga guru
Nyupat kabelogan makekuluh sastra
Gegéndong,
Uli aget magandong sastra
Waluya gegéndong
Gegéndong sang pradnyan
Karangasem, 4 September 2007
————————————————————————————————–
Luh Suwita Utami
MAKENYEM
Makenyem giginné gingsul
Makenyem, jero ayu…
Kadén nyen suba bajang
Kembang bungan natah
Masari kuning gading
Ngindang i kekupu
Makampid lumbang
Makenyem, makenyem Jero ayu
Apang ilang kangenne di hati
makenyem, makenyem Jero ayu
apang galang dinane jani
makenyem, makenyem jero ayu
kadén jero suba bajang
————————————————————————————————–
Made Adnyana Ole
DEWI PADI
Dewi Padi,
Kekasih sejati segala yang hidup
Kelak membajak bumi sendiri
Bersama sapi suci dan air perasan hati
Sementara anak-anakku
yang biasa meniup seruling
dari liang perih batang padi
Kini menjala bulu bangau dan sayap belalang
yang rontok dari langit
Bagaimana mereka bisa dewasa?
Sedang musim selalu saja ingkar janji
Tapi sesungguhnya darimana asal-Mu, Dewi?
Sedang segala dongeng hari ini
meminta-Mu pulang ke tugu-tugu tua
ke hulu hati-hati yang kupuja
Biar belalang menggoda musim
Bangau-bangau pulang. Dan anak-anakku
bermain di pelimbahan
Dewi Padi
Kelak mendongeng sendiri
tentang segala yang tak ada
1997
————————————————————————————————–
Warih Wisatsana
SETEGUK TANGIS
Kepada ULP
Sebab cucuran tangis tak kuasa
membujuk maut
Sekarat di rumputan seekor kuda bergulingan
Terbang ringkiknya menembus
nganga langit.
Di kilau matanya bulan merah berayun
semerah mawar darah,
Di matanya yang penuh isak kupu-kupu
Aku melihat
seorang lelaki berlari sepanjang malam
mengulum tangis
Seorang lelaki yang tak terbayangkan
oleh maut
Tak kuasa menolak takdirnya
Berlari di rumput
nganga langit. Bergulingan
di lengang padang bintang!
Pada lembar nyeri hari
pada kertas napas diri
Tangisnya leleh menulisi
kesedihanmu,
O, kuda yang sekarat dilecut maut
Biarkan lelaki itu dipacu ngilu waktu
berguling dihela ringkik senja
Sampai peluh darah
mengulum kata terakhir,
Terbang bersama arwah mawar
dan hantu kupu-kupu
menembus nganga tangis
Bersama penghabisan ringkikmu.
————————————————————————————————–
Wayan Sunarta
MEMBURU MATAHARI
matahari melintas di gigir senja
hanya sampai di batas pantai ini
kau tentukan langkahku
hingga tebing waktu
sia-sia kudaki
tangan-tangan gaib
menampar wajahku
aku terpelanting
terperangkap
dalam galau angin
mataku meluntur
laut kelabu
mulut ombak menganga
menerkam tubuhku
berwaktu-waktu kuburu matahari
yang membeku dalam jantungmu
namun kini tubuhku
menggumpal dalam ususmu
sebentar lagi habis kau cerna
1993
————————————————————————————————–
Tan Lioe le
AKU DANAU; AKU LAUT
Aku danau yang menadah bening hujan
Ikan-ikan dengan sirip letih
bermain di ganggang dan sejuk airku
Bulan, bintang yang kupunya
Hanya cahaya dan bayangan.
Aku laut yang menampung keruh sungai
Kelepak duka camar terakhir
dititipkan di pucuk gelombangku
Sesekali kulepas rinduku pada pasir
Tapi selalu ada saat untuk surut menjauh.
————————————————————————————————-
Oka Rusmini
ROMANTISME DAUN-DAUN KERING
mencintaimu
seperti mencintai daun-daun kering
mengotori tanah
menurunkan pahatan imajinasi
yang kurangkai di langit
memilikimu
seperti memiliki daun-daun kering
tak berwujud
cuaca telah memeras taksumu
tak tersentuh matahari pagiku
menatapmu
seperti menatap daun-daun kering
segumpal nanah dan kekacauan menetes di matamu
jatuh ke tanah
menyuburkan akar pohonku
mendekapmu
seperti mendekap daun-daun kering
rohnya batu
apinya retakan tanah dan sungai
permainan ini
kartu-kartu tanpa nafas
1996
————————————————————————————————–
Sindu Putra
IBU MENDOAKAN
ibu mendoakan aku
jadi Sita
rama-rama membawaku
Pada Rama
ibu memintaku memasuki dunia
mengenakan kain berlukiskan
bulan gerhana dan pohon ajaib
ibu turunkan dari langit
sebuah kapal
sebesar suatu negeri
negeri tiada burung
ibu tahtakan terajala di keningku
mencari nama Tuhan
di antara rasa sakit
sakit perempuan melahirkan
sejarah tiba: anak lahir
jadi, apa arti tarian pernikahan ini!
ibu mendoakan aku
dilahirkan Sita
rama-rama membawaku pada Rama
Mataram 2007
Naskah Lomba Baca Puisi Olimpiade Sastra 2009
Subagio Sastrowardoyo:
MANUSIA PERTAMA DI ANGKASA LUAR
Beritakan kepada dunia
Bahwa aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungki9n lagi kelmbali.
Aku kini melayang di tenagh ruang
Di mana tak terpisah malam dan siang.
Hanya lautan yang hampa di lingkung cemerlang bintang.
Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang.
Jagat begitu tenang. Tidak lapar
Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di rumah.
Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah.
Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu
Dengan membawa dongeng dalam mimpi tentang bota
Dan raksasa, peri dan bidadari. Aku teringat
Kepada buku cerita yang terlipat dalam lemari.
Aku teringat kepada bunga mawar dari Elisa
Yang terselip dalam surat yang membisikkan cintanya kepadaku
Yang mesra. Dia kini tentu ada di jendela
Dengan Alex dan Leo, - itu anak-anak berandal yang kucinta -
Memandangi langit dengan sia. Hendak menangkap
Sekelumit dari pesawatku, seleret dari
Perlawatanku di langit tak berberita.
Masihkah langit mendung seperti waktu
Kutinggalkan kemarin dulu?
Apa yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita.
Sebab semua telah terbang bersama kereta
ruang ke jagat tak berhuni. Tetapi
ada barangkali. Berilah aku satu kata puisi
dari pada seribu rumus ilmu yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi
Tetapi aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali.
Ciumku kepada istri, kepada anak dan ibuku
Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang.
Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.
Aku makin jauh, makin jauh
Dari bumi yang kukasih. Hati makin sepi
Makin gemuruh
Bunda,
Jangan membiarkan aku sendiri.
____________________________________________________________________________________
Goenawan Muhamad:
DI MUKA JENDELA
Di sini
Cemara pun gugur daun. Dan kembali
Ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
Kemarau pun menghembus bumi
Menghembus pasir , dingin dan malam hari
Ketika kedamaian pun datang memanggil
Ketika angin terputus-putus di hatimu menggigil
Dan sebuah kata merekah
Diucapkan ke ruang yang jauh: — Datanglah!
Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari tanah padang-padang yang tengadah
tanah padang-padang terkukur
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerdip, dan di ujung benua
memecah pelangi:
Tidakkah siapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak biru abadi,
dalam kristal kata
dalam pesona?
____________________________________________________________________________________
Abdul Hadi W.M.:
UNTUK SEBUAH CATATAN HARIAN
Di bawah seribu mawar
Bulan Juli yang terbakar
Dan langit musim panas
Matahari berganti-ganti
Ada bayangan daun gugur
Pada tingkap musim mencari
Serta kuntum-kuntum kapur
Dan kota yang semakin sunyi
Malam: Beberapa jejak sudah di jalan itu
Dan gerimis yang pulang sendiri
Ketika lonceng dari gereja mati
Ketika pelabuhan dari pulau abadi
Kau berkata, tak ada stasiun
Sebelum kereta memencar
Kau berkata, tak ada daun
Sebelum pohon berakar
Di bawah seribu mawar
Bulan Juli yang terbakar
Dan langit musim panas
Matahari menyuling keras sekali
____________________________________________________________________________________
Ngurah Parsua:
PENGAKUAN SEORANG PEREMPUAN JALANAN
Tuhan adakah ruang sekapan bagiku?
ini doa perempuan malam
lelaki masih putih-putih doanya
Aku kenal dari tajam mata memandang
Menyayat keadilan keadilan kiranya
- kereta api malam membelah sunyi
malam perjalanan-
Nenek tua memandang warnanya gemetaran
- bukankah setiap doa tergapai bagiNya?
perempuan perempuan seperti bunga saja –
semerbak untuk terlupa dan dilupakan
lelaki seperti bebas dari warnanya
Demi lapar laparlah menyeretnya,
harga kehidupan bergincu gincu, Tuhanku
Dan lelaki mulia bebas, dari
warna palsu diukir kepalsuan
- ada tempat doakah untuk doaku; Yang Mulia ?-
Lelaki berpakaian bebas saja
seperti bebas warna dosanya
menelusup ke dalam tulang belulang
perempuan tertawa lepas bebas saja
menyimpan luka hatinya – nenek tua –
menggoncangkan rambutnya tua menghiba
Mungkinkah, Tuhan tersenyum menyimpan setiap doa
pengakuan, membagi ruang sorga neraka
Barangkali; dicatatnya pada langit kekal hampa
Siapakah datang bagi kudus doa?
Kesadaran kapas putih terbang perlahan
____________________________________________________________________________________
Frans Nadjira:
SAJAK BONSAI MEMANDANG PAGI
Jadi apa makna bercak darah?
Tirai tembus pandang bergetar dalam cahaya
ketika dingin menyentuh kemilau embun
Ia ingat jejak mawar dan semua yang pernah
menyapanya Ia ingat:
potret mempelai dalam pakaian adat
seperai dengan tulisan tangan
tak terbaca. Ah
perkawinan. Akar pohon kerdil.
Yang sengaja dikerdilkan
Beringin kecil dekat jendela.
Sesudah sarang merpati, pemandangan menjadi
biasa dengan akar-akar kerdil dan ikan hias
Dan ia membasuh tangannya dengan wajah bahagia
Serta segala yang pantas diperhatikan
____________________________________________________________________________________
Yudhistira ANM Massardi:
BIARIN!
kamu bilang hidup in brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin
habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu
tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana
cuman, karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti
itu
kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin
soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?
aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu
aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia
ini. Iya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi
habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba
bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan
seperti kamu sadari sekarang ini
kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin
kamu bilang itu menyakitkan
____________________________________________________________________________________
Sutardji Calzoum Bashri
TANAH AIRMATA
tanah mata air mata kami tumpah dukaku
disinilah kami berdiri
menyanyikan air mata kami
dibalik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
dibalik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan dukalara
tapi perih tak bisa sembunyi ia merebak kemana-mana
bumi tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
kemanapun melangkah
kakian pijak airmata kami
kemenapun terbang
kalian kan hinggap di airmata
kami kemanapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa kemana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata kami
____________________________________________________________________________________
Rendra:
SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA
Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.
Amarah merajalela tanpa alamat.
Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah.
O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.
Kitab undang-undang tergeletak di selokan.
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.
O, tata warna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.
O kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil.
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara.
Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,
lalu mejadi penjarah di pasar dan jalan raya.
Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!
Cadar kabut dukacita menutup wajah Ibu Pertiwi.
Air mata mengalir dari sajakku ini.
____________________________________________________________________________________
Camar Samar:
ANAK EMAK
(Ketika_masa kanak-kanak)
Aku bertanya pada Emak
Saat tengah:malam ada tangisan anak
Kata Emak
Itu suara anak nakal diganggu setan beranak
Aku takut setan beranak
Kata Emak .
Tak usah takut, karena ada dewi yang menyulam taplak
Tak percaya mata terbelalak
Ku disuruh mengintip lewat dinding bambu yang sedikit koyak
Kulihat rembulan ada dewi yang menjaga sambil menyulam taplak
Aku terlelap dipangkuan Emak
Berselimut kemben emak
(Ketika masa sekolah)
Emak menisik baju
Bekas teman Bapak dahulu
Emak memberiku pensil kayu buku biru
Ketika aku terbata membaca buku
Kata Emak padaku
Rajinlah belajar dahulu
Kelak jadi dokter atau guru
Aku duduk di sekolah inpres baru
(Ketika masa remaja.)
Aku ingin sekolah lanjutan
Seperti Udin yang ayahnya angkatan
Seperti Sari yang ibunya rajin arisan
atau seperti A Hong yang papahnya punya toko di pasar Wetan
(Ketika kuutarakan pada Emak)
Emak menjawab dengan sedu sedan
Tak punya uang untuk sekolah lanjutan
Emak dan Bapak hanya kuli sawah musiman
(Ketika sudah dewasa)
Kulihat si Udin jadi tentara
Sari jadi dokter muda
A Hong jadi sarjana
Aku jadi kuli sawah tetangga
Ah, aku si Anak Emak .
Tak akan jadi dokter yang akan mengobati encok Bapak
Tak akan jadi guru yang akan mengajar membaca Emak
Dan tak akan takut pada setan beranak
____________________________________________________________________________________
Husni Djamaluddin:
INDONESIA, MASIHKAH ENGKAU TANAH AIRKU?
Indonesia
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku digusur
Dari tanah leluhur
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah airku dikemas
Dalam botol-botol aqua
Indonesia tanah airku
Di sanalah aku berdiri
Jadi kuli sepanjang hari
Jadi satpam sepanjang malam
Indonesia tanah airku
Indonesia di manakah tanahku
Indonesia tanah airku
Indonesia di manakah airku
Indonesia tanah airku
Tanah bukan tanahku
Indonesia tanah airku
Air bukan airku
Indonesia, masihkah engkau tanha airku?
Tuhan, jangan cabut Indonesiaku
Dari dalam hatiku
tinggalkan komentar